Sebuah Catatan

Dunia luar biar menjadi dunia luar. Sekurang-kurangnya jalanan menjadi ladang berburu pelajaran. Toh lebih banyak masaku habis di dalam kandang. Lima belas detik lalu seseorang telah mengangguk tanda mengerti. Tentang ada begitu banyak hal bernyawa di telepon genggam yang tidak bernyawa. Sebuah bahaya, pula sebuah lawan kata bencana. Sebagaimana sekarang aku memandang keluar jendela, dengung… Lanjutkan membaca Sebuah Catatan

Iklan

Milea

Untuk perempuan yang hanya bisa ditaklukkan Bapak. Bicara menjadi tahan banting adalah bicara perihalnya. Segera mewujud begitu indah kesegalanya di kepala dan dada. Kalau-kalau Bapak mengajakku berkunjung ke dermaga seninya, Ibulah yang pertama mengantarku menjabat tangan olahraga. Meski perlu disayangkan aku sepayah itu kepada voli. Tapi bukan masalah. Kedua benua itu masih diselamatkan oleh tawa.… Lanjutkan membaca Milea

Meracaui Bumi

Tiga butir kedelai sedang tidak saling bersinggungan dalam pemanggang. Katanya, hidup adalah tentang kesendirian. Tertulis besar-besar. Di langit, tumbuhan sambil sesekali dihadiahi hujan. Nyala resahnya bukan main. Potongan asa pada sekarung merica dibawa lari oleh gelisah. Menuju kaki gunung derita. Tentang sebuah pinta yang sederhana saja. Berteman dengan satu orang. Sudah bukan rahasia. Cermin mereka… Lanjutkan membaca Meracaui Bumi

Dilan

Bapak adalah seorang yang tidak ekspresif. Sulit membedakan duka dengan bahagia pada raut wajahnya. Apalagi dengan berkalimat lisan, adalah benar-benar bukan gayanya. Tapi. Bapak terlampau ekspresif di atas kertas. Memang tidak membicarakan, bahkan terkadang juga tidak melakukan. Bapak menulis. Bapak menulis penuh romantis. Apapun. Sampai suatu hari aku mendengar gosip dari Ibu. Ada yang berbeda… Lanjutkan membaca Dilan

Selamat Malam

Belakangan, satu gelas lentera di atas bebukuan telah mencapai dentum paling jatuh. Seseorang hampir dibunuh kesia-siaan. Banyak hal perlahan menjadi berantakan. Disusul dengan kiriman paket aroma neraka yang menjelma surga. Syukurlah, ada yang petang tadi masih berkesempatan menemu bulan. Hanya saja semesta kini berbeda. Romantisme dini hari bersama air mata percakapan menjadi sudi jauh tertinggal.… Lanjutkan membaca Selamat Malam

Untuk Kardono Darmoyuwono 3

Aku pikir, menjadi cofas adalah bukan beban. Hampir-hampir aku mengundurkan diri dengan begitu pecundang. Mengadu kalah dengan lelah. Bercerai dengan satu dua warna bahagia. Masih beruntung, sekarang aku mengerti. Jauh lebih mengerti. Tentang sebuah proses, tumbuh berduri melukai- lalu sembuh dan tumbuh. Aku pikir, menjadi cofas adalah bukan beban. Ternyata mereka serius. Penggodokan demi penggodokan… Lanjutkan membaca Untuk Kardono Darmoyuwono 3

Perihal

Tidak berhasil kuingat pasti, angka ke berapa hari patahku malam itu. Lima ratus dua puluh lima ribu enam ratusan menit yang dahulu. Semangkuk kabar bahagia mulai disuguhkan. Mula-mula, aku menyendoknya dengan penuh kutukan. Penyesalan. Tangisan. Kekacauan. Kemudian bukan masalah. Bergegas meminum botol kewarasan adalah ide bagus. Lidah berhasil menyerah atas nama kebahagiaan. Mengaku terlalu payah… Lanjutkan membaca Perihal